Marketing: Turbulensi Madrasah Kami?

Sebagaian pakar di bidang pemasaran melihat bahwa pada saat ini kita memasuki babak perekonomian baru. Segala hal terkait ekonomi dapat dilakukan dengan sangat cepat karena adanya arus informasi yang tidak terbendung melalui internet maupun telepon seluler. Hal ini, katanya, mampu mendorong pengehematan, percepatan proses produksi serta penyerahan barang dan juga jasa. Luar biasa! Sisi gelap dari itu semua adalah meningkatnya ambang risiko dan ketidakpastian yang dihadapi produsen dan konsumen. Segalanya menjadi tidak terprediksi. Dalam bidang ekonomi, satu informasi saja yang tidak mengenakkan akan berdampak besar pada banyak sektor dengan kecepatan yang tidak terperikan. Dalam kehidupan sehari-hari, satu kebencian saja yang datang dari satu orang dapat menyebar ke ribuan orang. Beberapa ahli menyebutnya dengan istilah turbulensi, caos, gangguan dan lain sebagainya yang tidak pernah berhenti.

Inti dari turbulensi itu sendiri adalah  kekerasan, keacakan dan ketakterdugaan. Dalam konteks organisasi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa turbulensi merupakan perubahan yang tidak terduga dan cepat dalam lingkungan ekseternal serta internal sehingga mempengaruhi kinerja organiasai. Pertanyaannya, bagaimana dengan pendidikan kita? Apakah kita juga merasakan turbulensi dalam kinerja pendidikan kita? Saya yakin, banyak aktor pendidikan yang akan mengatakan bahwa ‘ya, kita merasakan itu!’.

Turbulensi itu sendiri datang salah satunya dari adanya kemajuan teknologi dan revolusi informasi. Terkait hal ini, kita sudah tidak meragukannya lagi karena akibat positif dan negatif dari adanya kemajuan teknologi dapat langsung kita rasakan bahkan tepat di depan mata kita dalam keseharian. Lain dari itu, adanya teknologi dan inovasi pengganggu. Maksud teknologi atau inovasi pengganggu adalah istilah untuk menggambarkan inovasi, produk atau layanan teknologi yang menggunakan strategi tiba-tiba, bukan strategi evolusioner atau berkelanjutan untuk mendongkel teknologi lama yang dominan. Contohnya, buku kertas yang digantikan dengan e-book. Yang jelas, jika teknologi ini berhasil maka akan dieksploitasi sedemikian rupa untuk lebih meningkatkan laba. Dalam konteks pendidikan, misalnya, dengan adanya kegiatan tertentu yang dianggap berhasil maka kegiatan tersebut akan terus diulang dari tahun ke tahunnya sehingga kegiatan lainnya yang pada dasarnya memiliki nilai tambah tidak begitu diperhatikan.

Kemudian, adanya kekuatan baru yang lebih besar. Dalam konteks pendidikan madrasah, misalnya, madrasah berhadapan dengan sejumlah lembaga pendidikan yang lebih ‘wah’ dan menawarkan fasilitas yang luar biasa hebat. Hal ini, dapat menyebabkan turbulensi dalam kinerja organisasi madrasah. Lain dari itu, adanya hiperkompetisi. Ciri khasnya adalah adanya manuver-manuver kompetisi yang intens dan cepat untuk mengembangkan keunggulan kompetitif yang dapat menghapus keunggulan pesaing. Hal ini, dalam konteks pendidikan, misalnya, didorong dengan adanya produk baru yang lebih menarik, selera konsumen yang lebih terfragmentasi, deregulasi dan penemuan model pendidikan baru.

Kemudian, lingkungan. Dalam dunia pendidikan, faktor lingkungan terkait dengan upaya menjaga alam dan hubungan antar manusia. Dalam hal ini, dapat dikatakan, jika hal ini tidak diperhatikan maka akan menyebabkan turbulensi dalam kinerja organisasi pendidikan. Dan terakhir, terkait dengan konsumen dan pemangku kepentingan. Pada hari ini, kita tidak dapat melihat mereka sebagai aktor pasif. Dalam sekejap, mereka bisa melakukan kajian atas apa yang kita tawarkan melalui media on-line. Sekali saja kita melakukan satu kesalahan, maka dengan mudah hal tersebut dapat disebarkan. Dalam situasi seperti ini, para pakar menjelaskan, sebuah perusahaan harus dikelola untuk dapat menerima pukulan secara tiba-tiba serta mengambil keuntungan atas peluang yang secara tiba-tiba dan terduga muncul. Bagaimana dengan madrasah kami?

Terkait dengan hal tersebut, mari kita belajar dari beberapa kesalahan dalam pengelolaan madrasah yang pernah saya alami terkait dengan situasi turbulensi yang dihadapi. Kesalahan pertama yang saya rasakan terkait dengan keputusan pihak yayasan terkait alokasi sumber daya. Dalam upaya meningkatkan kinerja, diberlakukan perubahan struktur organisasi dan budaya kerja secara besar-besaran. Struktur organisasi dan Budaya lama yang memang dianggap menghambat dibongkar secara dramatis.  Kendati demikian, untuk mengudar ketegangan dihadirkan juga sejumlah insentif bagi para pihak agar tidak terjadi konflik. Namun, apa yang terjadi? Peningkatan kinerja sebagaimana yang diharapkan justru tidak terjadi. Harapan untuk meningkatkan kinerja justru harus dibayar dengan melambatnya kinerja dan menjadi sangat tidak efisien karena konflik baik laten maupun manifest tidak terhindarkan. Dan  tentunya, hal ini memakan biaya yang tinggi.  Dalam hal ini, saya melihat bahwa perubahan dramatis dalam struktur dan budaya sangatlah berisiko jika tidak diawali dengan persiapan matang, perlahan, dan terarah.

Kesalahan kedua yang saya alami terkait dengan penghematan biaya. Dalam hal ini, saya merasakan terjadi pengalokasian biaya yang tidak proporsional dan lebih menekankan insentif para pihak. Padahal, kebutuhan untuk hal lainnya seperti pengelolaan harian, biaya kegiatan, membangun hubungan dengan stakeholder, peningkatan kapasitas sumber daya dan pemenuhan infrastruktur sangat dibutuhkan. Hal ini menyebabkan proses pengelolaan madrasah menjadi delimatis. Sehingga, para pihak yang terlibat dalam pendidikan dituntut melakukan banyak hal yang pada dasarnya bukan keahliannya. Saya melihat bahwa hal ini sangatlah menggangu dan tidak maksimal.  Dampak yang dapat dirasakan secara langsung adalah sulitnya para pihak untuk terlibat dan fokus dalam memperbaiki desain dan kinerja madrasah. Padahal, perbaikan desain dan kinerja-lah yang membedakan pemenang dan pecundang.

Kesalahan ketiga dalam menghadapi turbulensi yang saya alami yaitu ketika diberlakukan berbagai kebijakan yang diarahkan untuk memecahkan masalah akan tetapi malah mengacaukan pertumbuhan masa depan lembaga. Contohnya ketika saya membuat keputusan untuk membuka partisipasi orang tua murid secara luas melalui komite sekolah ternyata hal tersebut kurang direspon secara positif oleh yayasan. Alasannya sederhana, tidak semua hal yang terjadi di madrasah harus diketahui oleh orang tua murid. Saya agak keberatan dengan hal tersebut, sebab pada hari ini partisipasi sangatlah dibutuhkan untuk menciptakan kolaborasi. Lain dari itu, sebagai bentuk akuntabilitas lembaga dalam proses pendidikan sekaligus memberikan informasi perkembangan lembaga untuk memupuk kepercayaan.

Kesalahan keempat yang saya alami, yaitu ketika yayasan berusaha keras membidik calon orang tua siswa baru tetapi kurang serius menjaga hubungan dengan orang tua murid lama. Menjaga hubungan yang dimaksud adalah upaya meyakinkan orang tua bahwa produk layanan pendidikan yang dihadirkan masih dalam lajur yang benar, on the track. Ada banyak keluhan dari orang tua murid yang tidak dapat direspon secara tepat dan cepat. Padahal dalam lembaga pendidikan, produk utama yang ditawarkan adalah layanan dan hal ini tidak dapat dijejaki secara kasat mata kecuali dengan adanya kepuasan dari pengguna produk layanan sebagaimana yang ditawarkan. Pada sisi ini, saya melihat bahwa mengutamakan kepuasan pengguna produk pendidikan itu sangatlah penting. Ketika mengabaikan hal tersebut, maka lembaga pendidikan sedang mempertaruhkan banyak hal.

Kesalahan kelima yang saya alami adalah tidak melihat para distributor dan pemasok kebutuhan lembaga sebagai rekanan penting dalam proses pendidikan. Padahal, pada dasarnya mereka membantu lembaga memperoleh kemampuan menggerakkan inovasi. Menempatkan mereka dalam kerangka keuntungan finansial melalui pengadaan buku saja, misalnya, hanya akan memperkecil ruang kreativitas lainnya. Padahal, mereka memiliki sejumlah kapasitas yang tidak dimiliki lembaga. Dalam konteks ini, saya melihat pentingnya komunikasi intens antara pengelola pendidikan dengan para distributor dan pemasok untuk melihat kapasitas mereka secara riil yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lembaga.

The last but not the least, adalah memperkecil anggaran  pelatihan bagi staf dan guru. Ketika lembaga pendidikan sedang fokus pada satu hal, pembangunan sarana dan prasarana misalnya, pelatihan bagi staf dan guru tidak dijadikan prioritas. Pelatihan sering dianggap sebagai pengeluaran dan buang-buang biaya. Cara pandang ini, hemat saya sangatlah tidak tepat. Kendati pelatihan tidak secara langsung memberikan keuntungan bagi lembaga, akan tetapi melalui pelatihan segala hal yang dapat mengancam pertumbuhan melalui persaingan antar lembaga dapat diatasi. Dengan kata lain, pelatihan akan membantu lembaga agar tetap siaga dalam arus persaingan yang keras.

Kesalahan-kesalahan tersebut, tentunya, hanya sebagian yang pernah saya alami. Dengan kerja keras dan proses yang cukup ketat kesalahan-kesalahan tersebut mulai diperbaiki secara perlahan. Yang jelas, semuanya membutuhkan proses dan tekad yang kuat. Mengakui adanya kesalahan dalam proses merupakan langkah awal yang baik untuk mencapai cita-cita kemajuan madrasah. Wallahu ‘Alam bi al-shawwab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dieksploitasi produsen, jangan mau!!!

Dalam tulisan saya beberapa waktu yang lalu, saya pernah menjelaskan bahwa paradigma bisnis dalam pendidikan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kendati pendidikan itu sendiri bukanlah lembaga bisnis sebagaimana perusahaan (baca, Pendidikan: Bisnis atau Bukan?). Saya menjelaskan bahwa pendidikan itu sendiri merupakan racikan antara idealisme dan bisnis dalam satu tarikan nafas. Itu jika dilihat dari substansi lembaga pendidikan itu sendiri. Namun, bagi para pelaku bisnis itu sendiri, lembaga pendidikan merupakan potensi pasar yang besar.

Bayangkan saja, dalam konteks urban, untuk tingkat SD/MI saja rata-rata minimal murid yang ada di sebuah lembaga pendidikan berada di kisaran 200 sampai 300 orang. Bahkan, jika lembaga pendidikannya maju, berada dikisaran 600 sampai 1000 orang. Belum lagi murid-murid yang berada di tingkat SMP/MTs dan SMA/MA. Jumlah tersebut, tentunya akan sangat fantastis jika dikalikan dengan jumlah sekolah yang ada di suatu daerah.

Sebagai potensi pasar, bisa jadi, cara berhitung para pebisnis jauh lebih luwes. Misalnya, dengan melihat bahwa produk mereka dapat dikomunikasikan minimal kepada satu orang dari keluarga dan satu orang dari teman para murid. Sehingga, jumlahnya bertambah dua kali lipat. Lain dari itu, dapat dilihat juga dari umur para murid yang relatif cukup panjang. Dalam hal ini mereka adalah pembeli masa depan yang akan melanggengkan usaha para pebisnis. Dan, jika dari jumlah yang banyak itu akan ada 30% menjadi pelanggan tetap dan sisanya adalah pelanggan tidak tetap maka hal tersebut merupakan hal yang sangat fantastis. Dalam hal ini, saya ingin mengatakan bahwa angka yang fantastis sama dengan keuntungan yang banyak dan dalam jangka waktu yang panjang.

Terkait dengan angka-angka tersebut, berbagai upaya penetrasi pasar yang dilakukan oleh perusahaan tentunya sangatlah luar biasa. Berbagai kegiatan yang mengatasnamakan pengembangan kreativitas murid atau apapun namanya, diciptakan agar berbagai sekolah mau terlibat dalam kegiatan tersebut. Lain dari itu, para pengelola sekolah diiming-imingi mendapatkan keuntungan finansial dari kegiatan tersebut walaupun sejauh pengamatan saya masih belum sebanding dengan keuntungan yang diperoleh oleh para pebisnis. Dalam hal ini, sekolah tidak dianggap sebagai mitra sejajar para pelaku bisnis karena keuntungan yang diberikan sering kali kepada individu pengelola lembaga pendidikan bukan pada sekolah itu sendiri.

Hal inilah yang sering menggelayuti pikiran saya ketika mengelola sekolah. Guru-guru yang tidak memahami persolan ini secara mendalam biasanya dengan sukarela bersedia menjadi tenaga pemasaran gratis. Murid-murid yang menjadi bimbingannya didorong untuk membeli produk tertentu agar bisa diikutkan dalam sebuah kegiatan tertentu. Tentunya, lagi-lagi hal ini dikerjakan atas nama pengembangan kreativitas atau minat dan bakat murid. Bagi saya hal ini tidak sehat untuk pengembangan lembaga pendidikan di masa yang akan datang.

Terlepas dari itu semua, dari pengalaman saya mengelola madrasah, dalam satu bulan minimal ada 10 orang yang datang menemui saya dari berbagai perusahaan yang memberikan penawaran baik jasa ataupun produk. Perusahaan yang datang mulai dari perusahaan berskala besar yang produknya sering mampir di TV atau perusahaan kecil menengah. Keuntungan yang ditawarkan, lagi-lagi, hanya untuk saya sebagai pemegang kebijakan operasional sekolah. Dan, jika gagal masuk melalui saya, maka mereka berusaha masuk melalui guru.

Pertanyaannya, adakah yang salah dari praktik itu? Menurut hemat saya, semua itu wajar dalam dunia bisnis. Namun, hanya menjadikan sekolah sebagai pangsa pasar, rasa-rasanya kurang memberikan dampak positif bagi sekolah itu sendiri. Lain dari itu, dengan adanya pelaku bisnis, pada dasarnya, sekolah bisa menjadikan mereka sebagai jaringan dan rekanan kerja untuk mencapai visi, misi dan tujuan dari sekolah. Hal inilah yang sering dilupakan. Yaitu, menjadikan para pelaku bisnis sebagai rekanan kerja.

Yang saya lakukan terkait dengan hal tersebut, adalah mengajak para pelaku bisnis untuk sama-sama berinvestasi di dunia pendidikan. Para pelaku bisnis mendapatkan akses kepada pasar dan sekolah mendapatkan keuntungan dari membuka pangsa pasar tersebut. Namun yang terjadi, kebanyakan dari mereka belum berkenan untuk memulai melakukan hal tersebut. Mungkin, dalam perhitungan mereka, cara pandang tersebut hanya akan menjadi beban kerja tambahan sekaligus hanya sedikit memberikan keuntungan. Namun demikian, dari pengalaman saya, ternyata, ada yang berkenan untuk berinvestasi lebih lanjut walaupun hanya dua perusahaan.

Pada sisi inilah saya melihat bahwa sangatlah penting untuk mengajak pelaku bisnis untuk melihat lembaga pendidikan sebagai mitra yang sejajar. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya aksidental bisa dinaikkan derajat substansinya menjadi kerja sama jangka menengah atau jangka panjang. Dan, dalam hal ini, masing-masing akan mendapatkan keuntungan yang sama dalam kurun waktu tertentu yang telah disepakati. Mungkin, hal ini, merupakan PR bersama yang mesti dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang belum sepenuhnya menjadikan para pelaku bisnis sebagai mitra. Sebab, di berbagai lembaga yang telah saya temui, sudah melakukan hal ini karena memahami betul bahwa kehadiran lembaga pendidikan merupakan pasar yang cukup menjanjikan bagi para pelaku bisnis.

Begitu pengalaman saya…mungkin, ada cara pandang lain dari rekan-rekan semua…

Wallahu A’lam bi-l-shawwab

Perubahan positif, dari mana dimulai?

Setiap institusi pendidikan memiliki dinamika persoalan yang berbeda satu sama lain. Dari berbagai dinamika persoalan yang dihadapi tersebut, masing-masing memiliki dampak yang berbeda satu sama lain, positif dan negatif. Persoalannya, adalah bagaimana mengubah berbagai dampak yang dihadapi sehingga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seluruh warga sekolah/madrasah.

Terkait dengan hal tersebut, ada banyak pilihan teori untuk menjawab persoalan tersebut, namun yang terpenting dari itu semua adalah keinsyafan akan adanya persoalan dan kebutuhan akan perubahan itu sendiri. Hal ini, merupakan prasyarat utama yang mesti dihadirkan dalam memulai sebuah perubahan. Kealfaan untuk menghadirkan kesadaran ini hanya akan hanya akan menghadirkan persoalan lainnya yang jauh lebih berat. Terlebih, jika kesadaran ini dipaksamasukkan ke dalam benak orang-orang yang berada di dalam institusi pendidikan.

Dalam konteks ini, jika kesadaran mulai hadir, maka yang terpenting dari itu semua adalah mencoba membuka ruang dialog untuk menemukan titik berangkat dalam melakukan perubahan. Sebab, dalam konteks institusi, perubahan itu sendiri mesti dijadikan agenda semua warga sekolah/madrasah. Kegagalan dalam mengkomunikasikan perubahan yang diharapkan, lagi-lagi, hanya akan menambah persoalan baru yang lebih rumit.

Menurut hemat saya, titik berangkat dari sebuah perubahan yang diharapkan bersama adalah merumuskan kembali arah dan tujuan dari perubahan. Menentukan arah dan tujuan berarti menegaskan sikap terkait dengan perubahan yang diharapkan dan segala konsekuensi yang dilahirkannya. Lain dari itu, proses tersebut juga merupakan penegasan ulang terkait bentuk institusi pendidikan itu sendiri.

Dari pengalaman saya, biasanya aktor-aktor kunci dari perubahan itu sendiri sering kali tidak siap melakukan perubahan. Sebab, ketika perubahan digulirkan, maka berbagai kebiasaan buruk dalam menjalankan roda organisasi akan hilang dari peredaran dan secara langsung menghilangkan keuntungan yang didapat dari lemahnya sistem organisasi. Sebab, bagi sebagian orang, lemahnya sistem organisasi merupakan keuntungan tersendiri. Oleh karenanya, dalam setiap perubahan positif yang akan dilaksanakan ada orang yang status quo untuk mempertahankan kelemahan, bagaimana pun caranya.

Terlepas dari semua itu, maka perumusan arah dan tujuan perubahan dapat dimulai dengan merujuk pada sejumlah dinamika yang dihadapi secara lebih terbuka baik internal maupun eksternal, isi dan juga prosesnya. Pada sisi ini, penting untuk melakukan beberapa hal, seperti: (1) merumuskan atau memfokuskan kembali visi, misi dan tujuan institusi. Proses ini, merupakan proses yang dapat dikembangkan pada wilayah struktural yang dapat mendorong setiap orang untuk bekerja berdasarkan visi, misi dan tujuan; (2) menciptakan model kepemimpinan yang suportif dan kreatif. Hal ini, penting dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif di mana ada pembagian tugas yang pasti bagi semua staf dan guru; (3) mengembangkan dan melatih personal organisasi. Pelatihan bagi personal organisasi akan membantu memenuhi kebutuhan dasar organisasi dalam upaya mencapai tujuan sebab pada akhirnya SDM lembaga sangat menentukan keberhasilan; (4) menciptakan model pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta. Dalam hal ini, mesti ada orang yang memiliki keterampilan mengubah data-data yang ada untuk ditingkatkan menjadi informasi baru atau bahkan pengetahuan baru dalam berorganisasi; dan (5) memastikan terjadinya kolaborasi. Dalam hal ini, berbagi tugas dan mandat dalam membuat keputusan akan membuka ruang kolaborasi yang lebih baik di antara personal organisasi.

Berdasarkan gambaran tersebut di atas, jelaslah bahwa perubahan positif yang diharapkan sekolah hanya akan terjadi jika semua pihak memang merasa membutuhkan dan bersepakat untuk belajar melakukan perubahan itu sendiri. Hal ini, tentunya, bukanlah hal mudah namun jika tidak dilakukan maka hal-hal negatif yang mungkin terlihat kecil akan berubah menjadi besar seperti putaran bola salju. Untuk itu, mari memulai dan berubah menjadi lebih sebab tantangan di masa yang akan datang jauh lebih berat…

Wallahu A’lam bi-l-shawwab

Belajar mengarang itu keren…!!!

Dulu, tidak pernah terbayang oleh saya bahwa belajar mengarang pada pelajaran bahasa Indonesia itu ternyata sangatlah bermanfaat dalam merancang kegiatan-kegiatan di sekolah. Pelajaran mengarang setidaknya mendorong saya untuk menginsyafi bahwa dalam praktik kegiatan di sekolah mesti ada tema, topik dan juga judul. Tema biasanya berbicara tentang sesuatu yang sangat umum. Topik terkait dengan poin-poin yang dapat dibicarakan terkait dengan tema tertentu dan dengan bebas dapat dipilih sesuai dengan minat atau kebutuhan. Sedangkan judul biasanya lebih menjelaskan secara lebih khusus terkait dengan topik yang dipilih.

Bagi saya, Hal ini sangatlah menarik karena dari pengalaman belajar mengarang saya bisa lebih mengarahkan kegiatan-kegiatan yang diadakan sehingga menjadi lebih terarah dan dapat disesuaikan dengan kalender akademik. Bisa dibayangkan, untuk murid-murid setingkat SD/MI, mereka dapat mengalami setidaknya satu tema dalam satu tahun secara lebih mendalam. Dan, jika mereka belajar di SD/MI selama enam tahun maka mereka akan mendapatkan pengalaman belajar sebanyak eman tema.

Dengan model seperti ini, maka perencanaan pendidikan yang biasanya disusun di akhir tahun ajaran dapat memiliki fokus. Dengan demikian, segala hal yang dikembangkan dalam satu tahun ajaran akan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan akan tema tersebut. Dalam hal ini, tidak ada lagi alasan untuk bingung mencari ide atau tema dalam merancang dan melaksanakan kegiatan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kalender akademik. Semuanya tertuju pada satu titik pembelajaran sambil terus melihat keterhubungan antara tema yang telah disepakati dengan topik-topik tertentu.

Pengalaman saya untuk membuat satu tema tertentu dalam satu tahun di madrasah yang saya kelola, ternyata memberikan dampak positif kendati mesti harus dilakukan banyak perbaikan. Waktu itu, saya, guru dan staf bersepakat untuk mengambil tema “Go Green”. Tema ini, mendorong saya, guru dan staf untuk berdiskusi lebih banyak. Dari hasil diskusi, ditemukan bahwa “Go Green” memiliki relevansi dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di madrasah. Misalnya, dalam keseharian dapat memupuk dalam diri para murid rasa cinta terhadap alam dengan selalu menjaga kebersihan. Hasilnya, madrasah selalu tampak bersih. Guru dan staf  selalu memasang mata untuk memastikan bahwa murid tidak membuang sampah sembarangan. Setelah timbul kesadaran tentang tidak membuang sampah sembarangan, murid diarahkan untuk mulai memilah sampah, organik dan non-organik.

Lain dari itu, murid juga diajarkan untuk selalu hemat dalam penggunaan air dan listrik. Misalnya, murid diminta untuk selalu mematikan ac, tv dan lampu ketika selesai menggunakan kelas. Atau, menutup keran dengan rapat jika telah berwudhu dan tidak menghambur-hamburkan air. Dan, mereka juga diajarkan untuk membuat sumur biopori yang salah satu kegunaannya untuk menampung cadangan air.  Dan, banyak lagi kegiatan harian yang dapat dilakukan. Sedangkan dalam kegiatan-kegiatan peringatan hari besar Islam pun ternyata tema tersebut tidak kalah menarik. Misalnya, ketika peringatan Idul Adha yang biasanya murid diajak untuk sama-sama terlibat dalam penyembelihan hewan kurban, “Go Green” ternyata masih tetap relevan atau dalam dalam kegiatan-kegiatan lainnya.

Praktik perecanaan kegiatan sekolah dengan tema tertentu di sekolah, tentunya, bukanlah hal yang baru bagi kebanyakan sekolah yang memang telah melakukan hal tersebut. Akan tetapi, masih banyak sekolah yang belum melakukan walaupun pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk melakukan hal tersebut. Namun demikian, berdasarkan pengalaman yang saya rasakan, membuat tema dalam kegiatan-kegiatan sekolah dapat memberikan keuntungan dalam pengelolaan kegiatan di sekolah. Keuntungan tersebut dapat dilihat secara internal maupun eksternal.

Secara internal, guru dan staf memiliki fokus dalam mengembangkan kegiatan baik harian, bulanan, semesteran dan tahunan. Artinya, di awal tahun menu kalender akademik akan diisi dengan berbagai kegiatan yang substansial. Lebih dari itu, guru dan staf akan lebih mudah mempersiapkan apa saja yang mesti dilakukan. Tentunya, dengan catatan, bahwa masing-masing individu sudah memahami bagaimana mempraktikkan tema tertentu dalam keseharian. Lain dari itu, dengan pemilihan tema, guru dan staf akan lebih mudah mengkomunikasikan pengalaman belajar yang akan didapat murid dalam satu tahun kepada orang tua/wali murid.

Sedangkan secara eksternal, sekolah dapat memproyeksikan pihak mana saja yang akan dijadikan rekanan yang dapat mendorong terciptanya pengalaman belajar bagi murid. Contoh kasus “Go Green”, beberapa pihak yang telibat misalnya dari kecamatan yang memberikan bantuan berupa bor untuk membuat sumur biopori. Atau, dari Dinas Pertemanan yang memberikan bantuan berupa tanaman yang akan ditanam para siswa. Atau, dari Dinas Kesehatan yang mengajarkan bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat. Dan, pihak lainnya, yang tidak dapat disebut satu per satu dalam tulisan ini.

Intinya, dengan adanya tema yang digarap secara fokus, maka akan memudahkan sekolah untuk mengembangkan modal pengetahuan yang dimiliki sekaligus meningkatkan modal sosial dengan membangun jaringan kerja dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta. Lain dari itu, dengan pemilihan tema kegiatan selama satu tahun, maka berbagai ruang kreativitas dapat terbuka. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk menghubungkan tema besar yang telah disepakati dengan berbagai topik pembahasan dan kegiatan yang beragam. Bisa jadi, bentuk kegiatan yang dilakukan sama seperti tahun sebelumnya, akan tetapi isi dan substansi dari setiap kegiatan tersebut berbeda. Dengan demikian, murid-murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih variatif dalam setiap tahunnya.

Ini pengalaman saya, bagaimana dengan pengalaman Anda?

Wallahu A’lam bi-l-shawwab.

Perencanaan, pentingkah?

Dalam sebuah lembaga pendidikan perencanaan bukanlah hal yang asing; mulai dari perencanaan jangka panjang, perencanaan jangka menengah atau perencanaan strategis, perencanaan tahunan, perencanaan semester, perencanaan kegiatan sampai perencanaan pembelajaran. Persoalannya, perencanaan-perencanaan tersebut, sering kali dianggap sebagai syarat administratif saja sehingga dalam praktiknya perencanaan kehilangan ruhnya dan dikerjakan jika memang ditanyakan pengawas sekolah atau untuk pemenuhan akreditasi sekolah. Padahal, dalam kertas perencanaan biasanya tersimpan sejumlah catatan penting seperti kondisi aktual, tata kerja, harapan dan cita-cita. Dan, dengan kertas itu pula, berbagai kegiatan yang sudah direncanakan dapat dimonitoring dan dievaluasi baik prosesnya maupun substansinya. Pertanyaannya, sudah sepenting itukah kita melihat perencanaan?

Dari pengalaman saya belajar dan berdiskusi di sejumlah lembaga pendidikan, sudah banyak yang menganggap bahwa perencanaan itu penting. Namun, persoalannya, belum banyak yang memahami apa dan bagaimana seharusnya membuat perencanaan yang baik walaupun sejumlah istilah dalam perencaan itu sendiri bukanlah hal asing. Sebagian lainnya masih menganggap bahwa perencanaan itu bukanlah hal yang penting. Alasan yang dikemukan terkait hal tersebut salah satunya adalah bahwa perencanaan yang baik membutuhkan waktu dan dana yang relatif banyak sehingga cukuplah satu orang yang dianggap paham perencaan yang mengerjakan hal itu. Yang penting, ketika pengawas sekolah datang ada dokumen tentang perencanaan. Dan, selesailah perkara…

Menurut hemat saya, ketidakinsyafan akan pentingnya perencanaan di sekolah, dapat dikatakan, bahwa sekolah bergerak tanpa arah dan tujuan yang jelas. Dan, jikapun yang terjadi seperti contoh kasus kedua di atas, maka yang terjadi, biasanya, adalah ketidakpahaman para pelaku utama pendidikan—guru dan staf—dalam menjalankan tugas. Ekses dari itu semua adalah bertumpuknya informasi atau pengetahuan tentang organisasi di beberapa orang saja. Dan, yang lebih memperihatinkan adalah ketidakjelasan pembagian tugas yang berujung pada beban tugas yang berlebih pada sebagian orang sedangkan yang lainnya dapat melenggang tanpa beban. Hal ini, tentunya, tidak baik dalam proses pendidikan itu sendiri karena akan berujung pada pola relasi dan interaksi yang tidak sehat. Padahal yang diharapkan, semua orang menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Nobody hero because everybody is hero.

Yang perlu digarisbawahi dari itu semua, ketidakseriusan dalam membuat perencanaan akan berimplikasi pada tata kerja staf dan guru dalam menjalankan tugas. Dan, hasil akhirnya pun dapat dengan mudah diprediksi, kerja yang asal-asalan atau hanya sekedar memenuhi tugas, minim semangat, minim harapan dan yang sangat memperihatinkan adalah munculnya kekesalan kepada rekan kerja karena yang satu memiliki tugas yang berat sedang yang lainnya santai melenggang.  Ujung-ujungnya, hal ini akan berdampak buruk pada pelayanan kepada pengguna akhir—end user—dari proses pendidikan itu sendiri, murid dan orang tua/wali murid.

Dalam konteks ini dapat dikatakan, semakin baik perencanaan yang dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan, maka hasil yang akan dicapai akan baik juga. Hal tersebut, akan menambah kepercayadirian pelaksana proses pendidikan dan juga akan menimbulkan kepercayaan dari murid dan orang tua/wali murid juga masyarakat luas. Inilah salah satu poin penting dari perencanaan. Yaitu, agar mendapatkan kepercayaan dari sebanyak mungkin orang yang terlibat dalam proses pendidikan, baik internal maupun eksternal.

Kendatipun demikian, perlu juga dipahami bahwa dalam pelaksanaan perencanaan itu sendiri sering terjadi hasil yang tidak dapat diprediksi—unintended consequences. Hasil yang tidak dapat diprediksi tersebut dapat berupa hasil positif yang melampaui target ataupun sebaliknya yang justru dapat mendegradasi harapan. Oleh sebab itu, dalam perencanaan penting melibatkan sebanyak mungkin orang—guru dan staf atau bahkan orang tua—agar  perencanaan yang dibuat lebih realistis berdasarkan kondisi aktual yang dihadapi; tidak berlebihan; dan dapat dilaksanakan dengan baik.

Atas dasar itu, maka beberapa catatan penting yang dapat dikemukan terkait dengan perencanaan adalah sebagai berikut: pertama, perencanaan mesti melibatkan banyak orang agar masing-masing orang yang terlibat dalam pelaksanaan proses pendidikan dapat saling belajar dan memahami arah serta tujuan dari proses kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dalam hal ini, partisipasi menjadi kata kunci yang mesti dikedepankan. Kedua, karena partisipasi akan mengikutsertakan banyak orang maka penting menghadirkan orang yang mampu memfasilitasi forum agar sejumlah diskusi terkait perencanaan dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini, orang yang memahami teknik-teknik fasilitasi perencanaan, monitoring dan evaluasi penting dihadirkan. Hal ini, bisa diambil dari kalangan internal ataupun eksternal. Ketiga, agar proses perencanaan dapat menghasilkan dokumen resmi yang dijadikan rujukan bersama, penting untuk membuat catatan proses perencanaan sehingga masing-masing orang melihat lebih dekat persoalan dan solusinya serta harapan dan praktiknya di lapangan.

Terlepas dari itu semua, saya ingin mengatakan bahwa perencanaan itu penting. Dulu sewaktu menimba ilmu di pesantren saya diajarkan bahwa perencanaan itu diibaratkan dengan niat. Makna dari niat itu sendiri adalah meneguhkan hati untuk mencapai tujuan yang dibarengi dengan mengerjakannya, qashdu syaiin muqtaranan bi fi’lihi. Dalam praktik keislaman, segala hal yang terkait dengan niat melakukan ibadah sudah diatur tata cara dan petunjuk pelaksanaannya secara tertulis kendati terdapat perbedaan pendapat ulama dalam pelaksanaannya, sehingga umat Islam tinggal merujuk pada salah satu pendapat ulama tersebut atau mempelajarinya sendiri dari al-Quran dan sunnah.

Sedangkan dalam praktik pendidikan, kendati pemerintah sudah memiliki petunjuk pelaksanaan pendidikan, dalam praktiknya membutuhkan sejumlah penyesuaian karena masing-masing lembaga pendidikan memiliki persoalan yang berbeda satu sama lain. Dan, proses penyesuaian tersebut mestilah ditulis agar menjadi rujukan pelaksana pendidikan dalam menjalankan proses pendidikan itu sendiri. Dan, yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana melibatkan hati dalam perencanaan sebagaimana dalam niat.

Terkait hal tersebut, mari berbagi…

Wallahu A’lam bi-l-shawwab

Pendidikan: Bisnis atau Bukan?

Judul tersebut merupakan salah satu pertanyaan yang dilontarkan salah satu anggota grup guru di media sosial. Pertanyaan ini cukup membuat banyak anggota grup untuk berkomentar, kendati pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan klasik yang sering kali dilontarkan oleh para pelaku pendidikan. Komentar dari pertanyaan tersebut pun beragam, ada yang jelas-jelas menyatakan bahwa pendidikan adalah bisnis dan sebaliknya ada yang mengatakan bahwa pendidikan bukanlah bisnis.

Masing-masing memiliki argumentasi yang berbeda satu sama lain. Hebatnya, argumen yang dikemukan pun masuk akal. Salah satu argumen yang diungkap, misalnya, pendidikan bukan bisnis sebab tidak ada satu pun kebijakan berbicara tentang hal tersebut dengan kata lain pemerintah tidak mendapatkan keuntungan apapun.

Terhadap argumen ini saya mengamini, kendati tidak 100%. Ya benar bahwa tidak ada kebijakan yang berbicara bahwa pendidikan merupakan bisnis, akan tetapi jika pemerintah tidak diuntungkan rasa-rasanya kurang pas. Keuntungan terbesar yang pemerintah dapatkan adalah sumber daya manusia yang baik dan berkualitas. Sisi lain dari itu, dengan adanya pendidikan akan terbuka lapangan pekerjaan seperti pekerja konstruksi, penerbit buku, konveksi, transportasi dsb. Dan, mungkin, keuntungan yang paling besar yang didapat pemerintah adalah terjadinya mobilisasi status ekonomi sosial dari kelas bawah ke kelas atas. Artinya, dengan adanya pendidikan berbagai kerawanan sosial dapat diminimalisir. Kendati, tidak dapat dipungkiri, bahwa ada banyak kasus justru pendidikanlah yang berkontribusi pada terjadinya kerentanan sosial.

Terkait dengan hal tersebut, ada juga argumen yang cukup menggelitik. Pendidikan bukanlah bisnis, sebab jika ia memang bisnis maka apa yang didapatkan guru harusnya melebihi apa yang didapatkan buruh. Nyatanya, penghasilan guru selalu di bawah UMR, dan bahkan lebih parah. Pada poin ini, saya menganggap memang itulah yang terjadi kendati banyak juga guru yang sudah sangat sejahtera.

Berbeda dengan argumen di atas, ada juga yang menyatakan bahwa pendidikan itu adalah bisnis. Argumentasi yang dikembangkannya terkait dengan praktik pendidikan yang mengharuskan orang tua mengeluarkan banyak biaya; SPP, pembangunan, daftar ulang, kegiatan, buku, seragam, transportasi dsb. Terhadap argumentasi ini saya pun mengamininya, akan tetapi, lagi-lagi tidak 100%. Saya melihat, bahwa dalam praktik pendidikan, paradigma bisnis tidak dapat dilepaskan. Pernyataan-pernyataan tentang pendidikan seperti kualitas, profesionalisme, perencanaan, pengorganisasian, pemasaran dsb. menunjukkan hal tersebut.

Dalam banyak kasus, paradigma bisnis pada dasarnya membantu sebuah institusi pendidikan memperjelas arah, tujuan dan bentuk yang ditawarkan kepada konsumen. Khususnya di perkotaan (urban), konsumen sudah lebih kritis dan rasional mengenai model pendidikan apa yang dibutuhkan. Sehingga, ketika gagal merumuskan arah, tujuan dan bentuk dari institusi pendidikan maka relatif akan ditinggalkan. Dan, persoalan biaya tidak menjadi masalah ketika institusi pendidikan mampu menjawab kebutuhan konsumen. Dalam konteks pedesaan (rural), paradigma bisnis juga dibutuhkan tetapi lebih menyasar pada bagaimana memperkuat modal sosial. Sebab, jika melulu terkait keuntungan ekonomi, institusi pendidikan akan ditinggalkan. Sehingga, yang dibutuhkan bagaimana mengkonversi modal sosial menjadi modal ekonomi, misalnya dengan mendorong masyarakat untuk bersadaqah, wakaf, terlibat dalam pembangunan dan lain sebagainya.

Dari poin ini, saya ingin mengatakan bahwa pendidikan berada dalam sebuah ruang yang mengharuskan bisnis dan idealisme menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, pertanyaan yang sekaligus judul di atas tidak relevan untuk diajukan karena masing-masing berkontribusi dalam praktik pendidikan itu sendiri. Persoalannya, justru, adalah bagaimana menyeimbangkannya. Sebab, dalam praktik pendidikan itu sendiri terdapat banyak dimensi yang saling mempengaruhi; sosial, moral, religius, ekonomi, budaya, dsb.

Itu menurut saya, bagaimana dengan Anda…

Merencanakan keberhasilan sekolah/madrasah?

Try to become not a man of success, but try rather to become a man of value

(Albert Einstein)

Kata-kata tersebut saya dapatkan ketika berselancar di media sosial. Entah itu ujaran Einstein atau bukan, saya merasa bahwa kata-kata itu luar biasa menghentak kesadaran saya tentang apa yang seharusnya terjadi dalam diri; berhasil atau bermakna? Mungkin, hal ini juga yang mesti dihadirkan di sanubari orang-orang yang berada di sekolah/madrasah; menjadi lembaga yang berhasil atau bermakna?

Untuk memahami hal tersebut lebih lanjut, saya yakin akan ada perbedaan persepsi apa yang dimaksud dengan berhasil atau bermakna. Terlepas dari itu semua, dan kembali pada judul di atas, apakah hal tersebut dapat direncanakan? Dengan spontan, siapapun akan menjawab, bisa! Terlebih untuk sebuah lembaga pendidikan, praktik perencanaan seperti ‘kutukan’ yang mesti dilakukan. Namun, seberapa besar perencanaan tersebut memberikan dampak itulah yang menarik untuk disoal.

Perencanaan merupakan salah satu tahapan dalam siklus manajemen untuk merumuskan berbagai ihwal seperti tujuan, strategi, program, aktivitas dsb. dan erat kaitannya dengan upaya pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan. Dalam praktiknya, seperti yang pernah saya alami, upaya ini biasanya didukung dengan sejumlah data atau informasi terkait dengan situasi sekolah/madrasah. Persoalannya, dalam praktik perencanaan, sering kali menjadikan masalah sebagai basis telaah. Berbagai metode analisa untuk mendalami masalah dijadikan rujukan dalam perencanaan.

Praktik ini, ternyata, mendapatkan tantangan. Sebab, masalah hanya akan melahirkan masalah lainnya, begitu seterusnya. Terhadap praktik ini, pada dasarnya telah banyak metode yang menyuguhkan hal sebaliknya. Salah satunya, adalah metode Appreciative Inquiry (AI). Metode ini biasanya digunakan untuk pengembangan organisasi (Shuayb et.al, 2009). Metode ini merupakan pengembangan dari penelitian tindakan (action research) yang biasanya lebih fokus untuk memecahkan masalah. Tidak terus terpaku untuk memperbaiki setiap permasalah merupakan inti dari metode ini, tujuannya agar bisa lebih menghargai dan memberikan peluang bagi terciptanya cara pandang dan cara tindak baru yang benar-benar telah teruji dan dapat dilakukan.

Dengan kata lain, metode ini lebih menekankan pada upaya memperkuat aspek-aspek positif yang sudah berjalan dan telah dilakukan melalui penggalian berbagai pengalaman positif warga sekolah/madrasah. Yaitu, dengan cara menceritakan pengalaman terbaik dan memperkuatnya agar bisa memberikan pengaruh positif di masa yang akan datang.

Terkait dengan metode ini, setidaknya ada 10 filosofi yang mesti dipahami: (1) bahwa dalam suatu masyarakat atau organisasi pasti ada sesuatu yang berhasil, tidak semuanya berada dalam kegagalan. Keberhasilan inilah yang kemudian dijadikan fokus; (2) apa yang difokuskan merupakan realitas kita; (3) realitas tidak berdiri sendiri, ia berhadapan dengan sejumlah realitas lainnya (multiple realities); (4) pertanyaan tentang kondisi suatu organisasi dalam beberapa hal berpengaruh pada bagaimana organisasi tersebut berjalan. Terlalu sering berbicara masalah, malah akan menjadikan organisasi tersebut bermasalah; (5) orang akan lebih percaya diri dan nyaman untuk menjelaskan tentang masa depan berdasarkan pengalaman yang dimiliki untuk masa depan. Dan, jika hanya berbicara masa lalu, maka apapun yang terbaik hanya akan dirasakan di masa lalu, bukan masa depan; (6)  metode ini penting untuk menghargai perbedaan; dan (7) bahasa yang kita gunakan menciptakan realitas kita. (Hammond, 1996)

Dalam aplikasinya, metode ini pada dasarnya meliputi empat daur langkah: (1) Discovering: mencari tahu pengalaman terbaik dan paling positif  dalam organisasi; (2) Dreaming: berpikir kreatif tentang masa depan; (3) Designing: merancang rencana untuk masa depan yang mencerminkan pandangan praktik terbaik; (4) Delivering:   menggerakkan energi yang ada menuju rencana tindakan (action plan), dan berlatih untuk mewujudkan apa yang ingin dicapai.

Pengalaman saya, metode ini dapat mengurai benang kusut perencanaan yang biasa dilakukan di sekolah/madrasah seperti dalam membuat perencanaan strategis atau perencanaan tahunan. Setidaknya, praktik-praktik terbaik yang pernah dilakukan oleh guru dan staf jauh lebih tergali. Hal inilah, yang menurut saya membuat peserta forum perencanaan jauh lebih nyaman. Lain dari itu, saya merasa bahwa sejumlah masalah yang dihadapi justru terjawab dengan sendirinya. Sebab, secara sadar atau tidak, peserta forum memberikan jawaban positif terhadap permasalahan justru dari pengalaman terbaik yang mereka lakukan.

Tentunya, ini adalah pengalaman saya, mungkin pengalaman sahabat-sahabat berbeda dengan apa yang saya alami karena adanya situasi, kondisi serta kebutuhan yang berbeda. Namun yang terpenting dari semua itu, apapun bentuk pengalamannya, pertanyaan untuk mencapai keberhasilan atau kebermaknaan masih relevan untuk didiskusikan lebih lanjut…